Ekstrak bahan alam untuk awet muda

Apakah anda pernah membaca cerita tentang Nicholas Flamel yang memiliki rahasia hidup abadi? Jika anda penggemar novel fantasi “Sang Alkemis” karya Michael Scott, pasti anda tahu kisahnya. Tapi, artikel ini bukan ulasan mengenai novel tersebut, melainkan tentang usaha manusia untuk bisa awet muda dan hidup lebih lama.

Banyak manusia berlomba-lomba mencari cara untuk bisa hidup lama dan awet muda. Beragam cara pun dilakukan, dari mulai melakukan pola hidup sehat sampai cara radikal seperti operasi plastik. Ilmuwan pun tidak mau kalah. Saat ini banyak dari mereka yang mencoba mencari cara agar kita bisa awet muda atau memiliki ekspektasi hidup yang lebih lama.

Hal inilah yang dilakukan oleh ilmuwan dari Universitas Concordia dan Perusahaan Idunn Technologies, Kanada. Mereka berusaha mencari senyawa dari alam yang bisa memperpanjang umur. Hasil penelitiannya di publikasikan di Jurnal Oncotarget pada Februari tahun ini [1]. Apa yang mereka lakukan adalah mengisolasi ekstrak tanaman dari 35 jenis tumbuhan herbal dan menggunakannya sebagai suplemen pada media tumbuh ragi (Saccharomyces cerevisiae). Kemudian, mereka menganalisis efeknya terhadap waktu hidup ragi dibandingkan dengan ragi yang ditumbuhkan tanpa menggunakan suplemen ekstrak tanaman tersebut.

Ragi dipilih sebagai organisme model untuk penelitian ini karena memiliki waktu hidup yang singkat, mudah penanganannya, dan memiliki jalur sinyal transduksi dan proses penuaan yang mirip dengan organisme tingkat tinggi lainnya, termasuk manusia. Selain itu, banyak penelitian lain untuk mencari cara perlambatan penuaan dilakukan menggunakan organisme model ini.

Dari 35 jenis ekstrak tanaman herbal yang diuji, enam diantaranya memiliki kemampuan untuk memperlambat proses penuaan pada ragi. Bahkan satu diantaranya, yaitu ekstrak dari kulit pohon willow (Salix alba), dapat meningkatkan waktu hidup rata-rata ragi sampai 475% dan waktu hidup maksimal sampai 369%. Hasil tersebut merupakan yang terlama diantara zat-zat farmakologi lain yang pernah diuji sampai saat ini.

Pohon willow (Salix alba). Sumber gambar: Willow – CC BY 2.5,

Pohon willow biasanya ditemukan di daerah bersuhu sedang dan di belahan bumi utara. Sejak jaman dulu, seperti disebutkan dalam teks-teks dari jaman Assyria, Sumeria, dan Mesir kuno, daun dan kulit pohon ini telah digunakan sebagai obat pereda nyeri dan demam. Hal ini karena pohon willow memiliki kandungan salicin, prekursor dari aspirin (obat anti-inflamasi pereda nyeri dan demam). Beberapa penelitian juga mengklaim bahwa tumbuhan ini memiliki aktifitas anti kanker dan antioksidan.

Ekstrak tanaman lain yang memiliki efek perlambatan penuaan berdasarkan penelitian ini adalah ekstrak dari akar dan rimpang Cimicifuga racemose (tumbuhan asli Amerika Utara yang biasa digunakan untuk mengobati sakit tenggorokan, depresi, dan penyakit ginjal), akar Valeriana officinalis L. (tumbuhan bunga dari Eropa dan sebagian Asia yang biasa digunakan untuk parfum dan memiliki efek sedatif atau penenang), seluruh bagian Passiflora incarnata L.(tumbuhan yang tumbuh di Amerika Serikat bagian utara dan biasanya digunakan sebagai obat penenang dan anti koagulasi), daun Ginkgo biloba (tumbuhan asli China yang biasa digunakan sebagai makanan dan dipercaya dapat meningkatkan fungsi kognitif otak), dan biji Apium graveolens L. (tumbuhan seledri yang tersebar di Eropa, Asia, Afrika, Amerika selatan, dan Australia dan biasanya digunakan sebagai sayuran).

Secara umum, efek dari ekstrak tanaman yang diteliti tersebut adalah meningkatkan proses respirasi dan potensial membran pada mitokondria. Ekstrak tanaman tersebut juga dapat mengurangi konsentrasi senyawa oksigen reaktif dalam sel sehingga mengurangi kerusakan oksidatif pada protein dan lipid membran. Sel juga menjadi resisten terhadap stress akibat paparan suhu tinggi dan zat-zat pengoksidasi. Selain itu, ekstrak tanaman tersebut juga dapat mempercepat proses degradasi lemak netral pada organel penyimpan lemak (lipid droplets) sehingga kemungkinan bermanfaat sebagai obat pelangsing.

Pada usia tua, sel-sel biasanya semakin rentan mengalami mutasi, baik pada DNA mitokondria maupun pada inti selnya. Ekstrak tanaman tersebut juga ternyata dapat mengurangi/mencegah terjadinya mutasi sehingga pada manusia kemungkinan dapat mencegah terjadinya kanker. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk menguji efeknya terhadap sel-sel kanker. Selain itu, penelitian untuk mencari tahu senyawa-senyawa yang perperan dan juga pengaruhnya terhadap penuaan pada organisme lain, termasuk manusia, sangat menarik untuk dilakukan. (kv)

 

Referensi:

[1]
V. Lutchman et al., “Discovery of plant extracts that greatly delay yeast chronological aging and have different effects on longevity-defining cellular processes.,” Oncotarget, vol. 7, no. 13, pp. 16542–66, Mar. 2016. [PubMed]

 

Keni Vidilaseris

Keni Vidilaseris adalah seorang peneliti di Departemen Biokimia, Universitas Helsinki, Finlandia sejak 2014. Ia mendapatkan gelar doktor dalam bidang Biologi molekuler dari Universitas Vienna, Austria pada tahun 2014. Bidang yang ditekuninya adalah penentuan struktur protein dengan menggunakan metoda Sinar-X. Keni adalah founder Pustaka Sains.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X